Kredit yang disalurkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencapai Rp 40,7 triliun per 31 Desember 2009. Jumlarv itu tumbuh 27,19% dibanding 31 Desember 2008 sebesar Rp 32 triliun.
"Penyaluran kredit kami naik 27,19% menjadi Rp 40,7 triliun per 31 Desember 2009, atau di atas rata-rata industri nasional. Kredit perseroan tahun 2009 mencapai Rp 16,3 triliun lebih, padahal kami awalnya hanya menargetkan sebesar Rp 12,5 triliun," kata Direktur Utama Bank BTN Iqbal Latanro pada acara paparan kinerja BTN tahun 2009 di Jakarta, Senin (8/3).
Meski ekspansi kredit BTN cukup tinggi, perseroan dapat menjaga tingkat kredit bermasalah (non-performing-loan/NPL) tetap sehat. NPL (net) Bank BTN per 31 Desember 2009 sebesar 2,7%.
"Manajemen Bank BTN optimistis, pertumbuhan kredit dapat diraih dengan tetap mengendalikan potensi NPL sesuai toleransi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI)," paparnya.
Berdasarkan kinerja per 31 Desember 2009 (audited), lanjutnya, BTN membukukan aset senilai Rp 58,5 triliun atau tumbuh 30,06% dari tahun 2008 sebesar Rp 44,9 triliun. Sedangkan dana pihak ketiga tumbuh 27,64% dari Rp 31,5 triliun tahun 2008 menjadi Rp 40,2 triliun. Laba bersih perseroan juga naik sekitar 14% dari Rp 430 miliar pada 2008 menjadi Rp 490 miliar tahun lalu.
"Rasio keuangan Bank BTN dapat dijaga dengan baik oleh manajemen, walau kondisi makro ekonomi tahun 2009 kurang kondusif sehingga menekan profitabilitas bank. Tahun lalu, likuiditas ketat sehingga bank perlu waktu untuk penyesuaian suku bunga kredit," imbuhnya.
la menjelaskan, sehatnya keuangan BTN dapat dilihat dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR), NPL, tingkat pengembalian modal (return on equity/ROE), rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/ CIR), dan margin bunga bersih (net interest /margin/NIM). CAR, NPL, ROE, CIR, dan NIM masing-masing sebesar 20,7%, 2,7%, 14,1%, 68,7%, dan 4,7% per 31 Desember 2009.
2010
Melihat capaian kinerja dan peluang ke depan, Iqbal optimistis, rasio keuangan BTN lebih baik pada 2010. "Kami optimistis, kinerja perseroan terus tumbuh pada 2010. Op-timisme ini tidak terlepas dari kinerja yang dihasilkan tahun 2009, baik dari sisi aset, kredit, dana pihak ketiga, laba, dan beberapa rasio keuangan," terangnya. la menjelaskan, capaian pada 2009 itu mengantarkan BTN menjadi 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset Perusahaan pun tuturnya.
la menambahkan, manajemen terus berupaya menjalankan prinsip kehati-hatian dengan tetap membuka peluang pengembangan usaha agar lebih baik. BTN juga berkomitmen tetap memberi pelayanan yang unggul dalam pembiayaan perumahan.
"Kami bakal lebih meningkatkan pelayanan dengan inovasi produk berbasis teknologi, untuk meningkatkan corporate value dan shareholder value (nilai perusahaan dan pemegang sanam)," ucapnya.
Corporate Secretary BTN Rinna Mona Lindyana menambahkan. pascapenawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, BTN tetap konsisten dalam pemenuhan kebutuhan rumah rakyat yang menjadi bisnis inti perseroan.
Sementara itu, berdasarkan riset Bahana Securities, pendapatan BTN bisa mencapai Rp 2,69 triliun pada 2010. Tahun ini, NIM bank pelat merah itu diperkirakan naik menjadi 11,4% dan menembus 15,6% pada 2011. Sedangkan laba diperkirakan menembus Rp 641 miliar tahun ini dan naik menjadi Rp 964 miliar tahun berikutnya merencanakan sejumlah aksi untuk mendukung kinerja perseroan agar tetap sehat.
Sesuai rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) 2010, lanjutnya, perseroan berencana menerbitkan Obligasi Bank BTN XIV senilai Rp 1,5 triliun-2 triliun. Perseroan juga akan melanjutkan kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA).
"KIK EBA kami telah sukses dilepas di pasar 2009. Perseroan telah menyiapkan aset-aset kredit yang sehat untuk disekuritisasi," Menurut analis dari Reliance Securities Andrew Sihar Siahaan, pertumbuhan laba bersih BTN dipengaruhi perolehan dana IPO. "Perseroan memperoleh dana murah senilai Rp 1,8 triliun, yang selanjutnya disalurkan ke berbagai jenis kredit," imbuhnya.
Direktur BTN Saud Pardede menambahkan, perusahaan memproyeksikan laba tahun ini naik, karena prospek bisnis bagus terkait tren peningkatan permintaan kredit seiring turunnya tingkat bunga.
(dr/am)