"Kami akan menerbitkan obligasi dan melanjutkan sekuritisasi aset yang ada untuk mengurangi maturity mismatch. Semua itu untuk memperbaiki struktur pendanaan supaya bisa melakukan ekspansi kredit yang lebih baik," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro di Jakarta, Rabu (20/1). Rencana aksi korporasi ini merupakan lanjutan setelah tahun lalu BTN melakukan penawaran saham perdana dan sekuritisasi aset.
Iqbal mengatakan, situasi pasar dan suku bunga dari surat utang diprediksi masih lebih baik pada semester pertama ini, sehingga penerbitan obligasi bisa didahulukan sebelum kenaikan suku bunga yang diprediksi pada paruh kedua tahun ini.
Setelah itu, katanya, akan dilanjutkan sekuritisasi aset (KIK/EBA) sekitar Rp 750 miliar, mungkin sampai Rp 1 triliun, kemungkinan pada semester berikutnya. Iqbal menyatakan, penerbitan semua instrumen itu untuk mengatasi perbedaan jangka waktu (maturity mismatch) antara
pendanaan yang lebih pendek terhadap kredit jangka panjang di sektor properti. Persoalan mismatch pendanaan itu bukan masalah besar, karena hampir semua bank mengalami hal tersebut dan harus berupaya untuk memperbaiki struktur pendanaannya.
Iqbal menjelaskan, semua instrumen pendanaan itu ada untuk mendukung ekspansi bisnis tahun ini, yang ditargetkan kucuran kredit barunya mencapai Rp 20 triliun.
Pada akhir 2009, kredit outstanding sekitar Rp 42 triliun. Kredit perseroan selalu tumbuh di atas industri seperti pada 2009 yang mencapai 2728 persen, cukup bagus meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2008.
(sigit wibowo/sat)